Kamis, 12 Maret 2015

Cahaya di Balik Batu


       Kubuka jendela kamarku,mentari pagi memberi salam hangatnya padaku, burung-burung menyambutku dengan kicauan merdunya. Sambutan itulah yang menjadi semangat awalku hari ini. Hei kawan, namaku Dodit, cita-citaku menjadi seorang presiden dan seorang penjelajah, umurku 10 tahun, aku hanyalah anak semata wayang dari ayahku yang bernama Tampan, nama yang unik bukan? Ya memang sih, ayahku cukup tampan, namun ayahku hanyalah seorang kuli bangunan, tetapi dia adalah ayah yang sangat baik dan kuat. Dan ibuku.... aku tak tahu dimana ibuku berada, aku bahkan tak mengetahui  wajah ibuku.
            Aku kini duduk di kelas 4 SD, di sekolah aku adalah anak yang lumayan pintar kata guruku . Namun,disekolah aku tak mempunyai teman, karena aku mempunyai masalah untuk pergaulan. Satu-satunya orang yang bisa mengerti aku hanyalah Ibu Halimah, Bu Halimah adalah guruku yang sangatttt cantik, dia juga sangat baik terhadapku, ssstttt Bu Halimah juga belum punya suami loh. Bu Halimah juga sangat dekat denganku kawan, beliau sudah ku anggap sebagai orangtuaku di sekolah.
            Pagi ini adalah pagi yang biasa bagiku, ayah membawakan bekal nasi goreng spesial  terenak buatannya. Selepas bersiap, ayah mengantarku ke sekolah dengan sepeda ontel butut kesayangannya. Ayah mengantarku sampai ke depan sekolah, dan kamipun bersalaman khas kami. Aku menuju kelas seperti biasa. Seperti biasa juga, ada 4 anak teman sekelasku, nampaknya mereka sangat tidak menyukaiku entah mengapa, setiap aku bertemu dengan mereka, aku selalu diejek dan dijahili, namun sejauh ini aku tetap sabar dengan ejekan dan kenakalan mereka karena semua perbuatan jahat pasti akan ada balasannya, begitu kata ayah.
            Jam pelajaran dimulai, aroma nasi goreng buatan ayah sangat menggoda. Kini saat yang ku nanti, jam istirahat tiba, aku lekas membuka bekalku di dalam kelas. Tanpa diundang, 4 sekawan itu datang menghampiriku, langsung saja mereka menjatuhkan bekal makananku dan melemparkannya ke wajahku. Sontak, tanpa memikirkan nasihat dari ayah, aku melepaskan pukulan pertamaku ke wajah dari salah satu 4 sekawan itu. Mereka membalasku tanpa hentinya, seisi kelas riuh dan bersorak seperti sedang menonton petandingan gulat yang menarik perhatian anak kelas lain. Suara teriakan anak-anak ini juga mengundang Ibu Halimah yang kemudian datang dan melerai kami, aku hanya bisa menangis dan merekapun mengejek dan menertawaiku.
            Jam sekolah usai, tak seperti biasa, ayah tak datang menjemputku kali ini. Aku berjalan kaki menuju rumah tanpa siapapun yang menemaniku. Sesampainya di depan rumah aku melihat ada 3 orang datang menaiki mobil box. Ayah didalam rumah nampak sedang memohon-mohon kepada mereka, entah apa yang mereka katakan, 3 orang itu  satu per satu mulai mengankut barang-barang yang ada di rumah. Mungkin 3 orang itu telah usai dengan urusannya, merekapun pergi dengan membawa barang-barang kami. Aku berjalan masuk ke dalam rumah, ayah terkejut dengan kondisi wajah dan pakaiankuu yang babak belur dan kumal ini.
            “Ada apa denganmu nak? Apa kamu berantem? Kenapa berantem? Kan udah ayah bilang,setiap perbuatan pasti ada balasannya, kamu gapapa? Mana yang sakit, biar ayah obatin”, ujar ayah padaku dengan mata berkaca-kaca dan raut muka yang sedih, “engga yah, gapapa kok, Dodit cuma jatuh dijalan waktu pulang tadi kok. Ayah kenapa kok sedih gitu?”,  tanyaku seraya menatap matanya. “Ayah juga gapapa kok Dit, ayah cuma khawatir aja sama kamu. Oh iya Dit, cita-citamu mau jadi penjelajah kan?” tanya ayah dengan senyum manisnya, “oh tentu yah, Dodit mau menjelajah dunia yah!”, seruku . “Nah, ayah mau nawarin kamu nih, gimana kalau kita berpetualang aja?”, tanya ayah. “wah yang bener yah? Dodit mau! Tapi yah, gimana sekolah Dodit? Terus rumah kita?” tanyaku heran. “Nanti kamu sekolah ayah anterin seperti biasa, rumahnya kita tinggalin aja, kan udah gak ada barang-barangnya, nanti kita tinggalnya kaya orang-orang yang suka menjelajah gitu, gimana?”, jawab ayah. “Asikk! Oke yah, kita berangkat kapan?”, sahutku dengan riang. “Udah, sekarang kamu ganti baju terus kita berangkat!”, “oke yah!” sahutku dengan sangat antusias.
            Ayah mulai mengayuh sepeda ontelnya, petang mulai datang. Kami sangat menikmati keadaan kota yang dipenuhi lampu-lampu gemerlap, kini sudah hampir larut, akupun sudah mulai mengantuk. “Ayah, Dodit ngantuk yah, Dodit mau tidur.” Kataku pada ayah, “Iya Dit, sebentar lagi kita sampai di penginapan kita kok”. Tak lama,ayah berhenti di sebelah jembatan yang cukup lebar. “Dit, turun dulu, penginapan kita ada di bawah, ayo turun”, cakap ayah seraya merangkulku, “loh kok dibawah jembatan yah,katanya di penginapan?” Tanyaku terheran. “iya Dit, ini penginapan kita, sebentar ayah ngambil kasur dulu”. Kemudian ayah mengeluarkan beberapa onggok kardus untuk di sobek dan dijadikan alas tidur. Aku mulai penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, “yah, apa yang sebenarnya terjadi? Ayah boong sama Dodit? Kata ayah,kalau boong itu dosa kan yah?”, tanyaku pada ayah yang terlihat sangat lelah. Ayah hanya menatapku dengan senyumnya dan berkata “ Engga ada apa-apa kok Dit, kita kan lagi bertualang? Nikmatin aja. Udah malem nih, ayo tidur Dit, biar besok ga kesiangan”. Aku masih terheran dengan jawaban dan raut muka ayah, aku menatap ke dinding-dinding bawah jembatan yang bersuara bising karena suara dari kendaraan yang tak henti-hentinya melintas.
            Aku memalingkan pandanganku pada ayah yang sudah terlelap, tanpa sengaja ada sepucuk kertas jatuh dari kantung  kemejanya yang kumal. Kumulai membuka dan membaca isi surat itu, aku cukup kaget dengan surat itu yang berisikan utang piutang ayah pada rentenir untuk memenui kebutuhan kami. Kini aku paham mengapa orang-orang itu membawa barang-barang dirumah kami dan mengapa ayah membawaku untuk tidur dibawah jembatan. Seketika aku meneteskan air mata , “tuhan, apakah ini keadilan yang engkau berikan pada kami? Kasihan ayah tuhan.... berikanlah jalan keluar pada kami, apakah aku akan selalu dihina? Apakah akan selalu menjadi khayalan untuk tidur di rumah mewah seperti mereka? Apakah hanya akan selalu menjadi khayalan untuk diantar menggunakan kendaraan mewah seperti mereka tuhan? Apakah kami tidak bisa makan enak tuhan? Apakah kami tidak bisa mempunyai baju yang layak tuhan? Tidak! Tidak, tuhan aku tidak mau seperti itu tuhan, dimana tuhan? Dimana keadilan yang engkau janjikan pada kami!”  Tanyaku pada tuhan di kegelapan malam.
            Sinar matahari menggodaku untuk terbangun dari tidurku, aku melihat sudah tidak ada ayah  disampingku. “mungkin ayah lagi olahraga”, pikirku. Aku bergegas berangkat mandi di toilet umum di sebelah jembatan. Usai mandi, aku kembali turun ke tempatku tidur, disana sudah ada ayah, dengan memegang satu bungkus makanan dan air mineral. “Ayo sinih nak! Ayah sudah bawa sarapan spesial nih, ada yam dan telurnya loh!”, ucap ayah seraya membuka bungkus nasi itu. Aku heran dengan isi bungkus makanan itu, ayamnya sudah tidak utuh dan telurnya juga tinggal separuh. “Yah, ini makanan sisa?” tanyaku pada ayah. Ayah menatapku dengan pandangannya yang penuh makna, “iya nak, maaf cuma ini yang bisa ayah kasih ke kamu nak, ayah sekarang udah engga punya uang lagi, harta ayah udah habis diambil rentenir nak, sekarang satu-satunya harta yang ayah punya cuma kamu nak, sekali lagi maafin ayah ya nak, ayah pasti akan melakukan yang terbaik buat kamu nak”, jawab ayah dengan matanya yang berlinangkan air mata. Akupun tak tega melihatnya seperti itu, “iya yah, gapapa yah, Dodit ngerti kok”, jawabku disertai senyum kecilku. Ayah menatapku dengan tatapan harunya yang kemudia memelukku dengan pelukan hangatnya.
Setelah sarapan, ayah kembali mengantarku ke sekolah seperti biasa, kini ayah mengantarku sampai depan kelas agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan kembali, setelah kami melakukan salaman khas kami, aku berjalan menuju kelas. “Pak Tampan!”, terdengar olehku suara lembut Bu Halimah memanggil nama ayahku, kemudian aku mengintipnya dari jendela kelas. Bu Halimah memberi amplop pada ayahku, namun ayah nampak sangat bingung dan gelisah. Ayah memalingkan pandangannya ke kelasku, akupun langsung membalikan badanku dan terus terpikir apakah yang diberi Bu Halimah pada ayah.
Jam sekolah usai, ayah terlihat menungguku di seberang jalan. “Kita makan di rumah makan yuk!”, ajak ayah. “Loh, kata ayahkan...”, belum usai aku mengatakannya, ayah menyahut “udah kamu tenang aja, yang penting kita makan enak nanti”. Aku hanya menganggutkan kepala terheran. Tibalah kami di rumah makan itu, setelah kami mengambil makanan, kamipun mulai menyantap makanan kami. Namun aku masih mekirkan bagaimana cara ayah membayar makanan ini. Setelah kami usai makan, ayah mengatakan akan kebelakang sebentar, namun di tempat duduknya ada amplop seperti yang diberikan Bu Halimah tadi. Tanpa pikir panjang, aku membuka amplop itu. Amplop itu ternyata berisi surat peringatan untuk membayar biaya sekolah agar aku tak dikeluarkan dari sekolah. Sontak aku langsung termenung memikirkan tentang ayah. Setelah menunggu sekitar 1 jam, ayahpun kembali, “ayah kok lama banget si? Ngapain aja?”, tanyaku. “ayah baru nyuci piring dit”, jawab ayah. “loh kok nyuci piring yah? Bukannya udah ada pegawainya?” tanyaku kembali. Lagi-lagi ayah hanya tersenyum padaku.
Malam mulai datang, ayah mengajakku untuk menginap di tempat yang katanya jauh lebih mewah dari kemarin, akupun makin antusias untuk itu. Tanpa terduga ayah masuk ke dalam stasiun melewati jalur rel kereta, “Dit, malam ini kita tidur di dalam gerbong kereta ya, ayah cari pintu gerbong yang gak kekunci”, ucap ayah berbisik seraya mendorong satu persatu pintu gerbong dan akhirnya ada satu gerbong yang tak terkunci, ayah menggendongku naik ke dalam gerbong. Setelah kami akan berangkat tidur, badan ayah terasa sangat panas dan batuk-batuk, ayah menggigil seperti kedinginan. Aku sangat bingung dengan apa yang harus ku lakukan, “ayah kenapa? Ayah sakit? Dodit bawa ke puskesmas ya?” tanyaku dengan sangat panik. “engga usah Dit, ayah cuma kedinginan aja, mungkin kebanyakan kena angin” jawabnya rintih. Lalu ku selimutkan jaketku pada tubuhnya. Aku sangat iba melihat ayah yang harus berjuang demiku.  Aku hanya bisa menangis dengan ini semua. “Dodit, kamu jangan nangis, hidup itu ujian, kadang kita dibawah, kadang diatas, kalau kita ikhlas, tuhan pasti akan memberi imbalannya pada kita” ucap ayah. “tapi yah, Dodit kasian sama ayah, Dodit capek sama semua ini, Dodit capek ada di bawah terus, Dodit malu yah!”, balasku dengan meneteskan air mata. “Gausah dipikirkan Dit, ini pasti rencana tuhan. Udah ah, tidur aja, besok sekolah Dit” sahut ayah kembali.
            Saat hari masih sangat pagi, ayah membangunkanku untuk segera pergi agar kami tidak diusir oleh petugas stasiun. Setelah rutinitas pagi yang biasa aku lakukan, ayah mengantarku berangkat ke sekolah dengan wajah yang masih pucat. Di kelas aku terus memikirkan tentang ayah. Saat pulang sekolah, ayah tidak terlihat menungguku, mungkin ayah masih sakit, ujarku. Aku pulang jalan kaki menuju tempat ayah biasa nongkrong bersama teman-temannya. Dijalan tanpa sengaja aku menendang batu yang dibaliknya terlihat seongok kertas setelah kubuka, ternyata itu adalah lowongan pekerjaan untuk menjadi mandor yang ayah bisa lakukan. Aku tak sabar ingin memberitahukan ini pada ayah, ayah sangat snang dengan apa yang aku berikan itu. Ayah langsung mengganti pakaiannya dan mengoleskan minyak goreng pada rambutnya yang sangat berantakan, ayah langsung berangkat dengan membawa ijazahnya yang hanya sampai SMP.
            Aku menunggu ayah dengan sangat cemas, ayah terlihat dari kejauhan sambil bersepeda dan mengatakan pada orang-orang bahwa ayah mendapat pekerjaan. Ayah turun dari sepedanya dan mengangkatku kemudian memeluku seraya mengucap terimakasih padaku. “Gak usah terimakasih sama aku yah, teimakasih aja sama tuhan, karena tuhan yang punya rencana”, ucapku pada ayah yang terlihat sangat gembira dan tak bisa berkata-kata.
            Hari demi hari berlalu, keuangan ayah kini mulai membaik. Buktinya aku sudah bisa membeli baju baru, sepatu baru, buku baru, dan tas baru. Kali ini ayah mengantarku dengan sepeda motor second yang baru dibeli ayah, meskipun bukan motor baru, namun aku sangat senang dengan motor itu, ayah sudah tidak perlu capek-capek mangayuh sepeda ontel tuanya itu. Diatas motor aku bertanya pada ayah “yah, Dodit bisa punya ibu lagi gak yah? Dodit pengen punya ibu yah” ucapku. Namun ayah hanya terdiam dan hanya fokus mengendarai.
            Sesampainya di sekolah entah mengapa 4 sekawan jahil itu meminta maaf padaku dan  mereka ingin menjadi sahabatku. Aku menjawab permintaan mereka dengan mantap “iya tentu!” aku sangat senang dengan itu, belum usai gembiraku, aku melihat ayah sedang berbincang dengan Bu Halimah, mereka terlihat sangat akrab dan terlihat senyum-senyum malu diantara mereka. Ayah melihat ke arahku dengan wajah gembira dan senyumnya seraya mengedipkan matanya yang terlihat seperti menjawab pertanyaanku padanya.
            Wahh nampaknya aku akan punya ibu baru nih! Ujarku dalam hati dengan sangat gembira. Kemudian aku menatap ke arah langit seraya mengucapkan “terimakasih tuhan, rencanamu luar biasa. Maaf tuhan aku telah meragukanmu, kini aku takkan meragukanmu lagi, karena dibalik kegelapan pasti ada secercah cahaya disana”.
                                                                                                 Genmass Gagas Alfakhri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar