Kubuka jendela
kamarku,mentari pagi memberi salam hangatnya padaku, burung-burung menyambutku
dengan kicauan merdunya. Sambutan itulah yang menjadi semangat awalku hari ini.
Hei kawan, namaku Dodit, cita-citaku menjadi seorang presiden dan seorang
penjelajah, umurku 10 tahun, aku hanyalah anak semata wayang dari ayahku yang
bernama Tampan, nama yang unik bukan? Ya memang sih, ayahku cukup tampan, namun
ayahku hanyalah seorang kuli bangunan, tetapi dia adalah ayah yang sangat baik
dan kuat. Dan ibuku.... aku tak tahu dimana ibuku berada, aku bahkan tak
mengetahui wajah ibuku.
Aku kini duduk di kelas 4 SD, di
sekolah aku adalah anak yang lumayan pintar kata guruku . Namun,disekolah aku
tak mempunyai teman, karena aku mempunyai masalah untuk pergaulan. Satu-satunya
orang yang bisa mengerti aku hanyalah Ibu Halimah, Bu Halimah adalah guruku
yang sangatttt cantik, dia juga sangat baik terhadapku, ssstttt Bu Halimah juga
belum punya suami loh. Bu Halimah juga sangat dekat denganku kawan, beliau
sudah ku anggap sebagai orangtuaku di sekolah.
Pagi ini adalah pagi yang biasa
bagiku, ayah membawakan bekal nasi goreng spesial terenak buatannya. Selepas bersiap, ayah
mengantarku ke sekolah dengan sepeda ontel butut kesayangannya. Ayah mengantarku
sampai ke depan sekolah, dan kamipun bersalaman khas kami. Aku menuju kelas
seperti biasa. Seperti biasa juga, ada 4 anak teman sekelasku, nampaknya mereka
sangat tidak menyukaiku entah mengapa, setiap aku bertemu dengan mereka, aku
selalu diejek dan dijahili, namun sejauh ini aku tetap sabar dengan ejekan dan
kenakalan mereka karena semua perbuatan jahat pasti akan ada balasannya, begitu
kata ayah.
Jam pelajaran dimulai, aroma nasi
goreng buatan ayah sangat menggoda. Kini saat yang ku nanti, jam istirahat
tiba, aku lekas membuka bekalku di dalam kelas. Tanpa diundang, 4 sekawan itu
datang menghampiriku, langsung saja mereka menjatuhkan bekal makananku dan
melemparkannya ke wajahku. Sontak, tanpa memikirkan nasihat dari ayah, aku
melepaskan pukulan pertamaku ke wajah dari salah satu 4 sekawan itu. Mereka
membalasku tanpa hentinya, seisi kelas riuh dan bersorak seperti sedang
menonton petandingan gulat yang menarik perhatian anak kelas lain. Suara teriakan
anak-anak ini juga mengundang Ibu Halimah yang kemudian datang dan melerai kami,
aku hanya bisa menangis dan merekapun mengejek dan menertawaiku.
Jam sekolah usai, tak seperti biasa,
ayah tak datang menjemputku kali ini. Aku berjalan kaki menuju rumah tanpa
siapapun yang menemaniku. Sesampainya di depan rumah aku melihat ada 3 orang
datang menaiki mobil box. Ayah didalam rumah nampak sedang memohon-mohon kepada
mereka, entah apa yang mereka katakan, 3 orang itu satu per satu mulai mengankut barang-barang
yang ada di rumah. Mungkin 3 orang itu telah usai dengan urusannya, merekapun
pergi dengan membawa barang-barang kami. Aku berjalan masuk ke dalam rumah,
ayah terkejut dengan kondisi wajah dan pakaiankuu yang babak belur dan kumal
ini.
“Ada apa denganmu nak? Apa kamu
berantem? Kenapa berantem? Kan udah ayah bilang,setiap perbuatan pasti ada
balasannya, kamu gapapa? Mana yang sakit, biar ayah obatin”, ujar ayah padaku
dengan mata berkaca-kaca dan raut muka yang sedih, “engga yah, gapapa kok,
Dodit cuma jatuh dijalan waktu pulang tadi kok. Ayah kenapa kok sedih gitu?”, tanyaku seraya menatap matanya. “Ayah juga
gapapa kok Dit, ayah cuma khawatir aja sama kamu. Oh iya Dit, cita-citamu mau
jadi penjelajah kan?” tanya ayah dengan senyum manisnya, “oh tentu yah, Dodit
mau menjelajah dunia yah!”, seruku . “Nah, ayah mau nawarin kamu nih, gimana
kalau kita berpetualang aja?”, tanya ayah. “wah yang bener yah? Dodit mau! Tapi
yah, gimana sekolah Dodit? Terus rumah kita?” tanyaku heran. “Nanti kamu
sekolah ayah anterin seperti biasa, rumahnya kita tinggalin aja, kan udah gak
ada barang-barangnya, nanti kita tinggalnya kaya orang-orang yang suka
menjelajah gitu, gimana?”, jawab ayah. “Asikk! Oke yah, kita berangkat kapan?”,
sahutku dengan riang. “Udah, sekarang kamu ganti baju terus kita berangkat!”,
“oke yah!” sahutku dengan sangat antusias.
Ayah mulai mengayuh sepeda ontelnya,
petang mulai datang. Kami sangat menikmati keadaan kota yang dipenuhi
lampu-lampu gemerlap, kini sudah hampir larut, akupun sudah mulai mengantuk.
“Ayah, Dodit ngantuk yah, Dodit mau tidur.” Kataku pada ayah, “Iya Dit,
sebentar lagi kita sampai di penginapan kita kok”. Tak lama,ayah berhenti di
sebelah jembatan yang cukup lebar. “Dit, turun dulu, penginapan kita ada di
bawah, ayo turun”, cakap ayah seraya merangkulku, “loh kok dibawah jembatan
yah,katanya di penginapan?” Tanyaku terheran. “iya Dit, ini penginapan kita,
sebentar ayah ngambil kasur dulu”. Kemudian ayah mengeluarkan beberapa onggok
kardus untuk di sobek dan dijadikan alas tidur. Aku mulai penasaran dengan apa
yang sebenarnya terjadi, “yah, apa yang sebenarnya terjadi? Ayah boong sama
Dodit? Kata ayah,kalau boong itu dosa kan yah?”, tanyaku pada ayah yang
terlihat sangat lelah. Ayah hanya menatapku dengan senyumnya dan berkata “
Engga ada apa-apa kok Dit, kita kan lagi bertualang? Nikmatin aja. Udah malem
nih, ayo tidur Dit, biar besok ga kesiangan”. Aku masih terheran dengan jawaban
dan raut muka ayah, aku menatap ke dinding-dinding bawah jembatan yang bersuara
bising karena suara dari kendaraan yang tak henti-hentinya melintas.
Aku memalingkan pandanganku pada
ayah yang sudah terlelap, tanpa sengaja ada sepucuk kertas jatuh dari
kantung kemejanya yang kumal. Kumulai
membuka dan membaca isi surat itu, aku cukup kaget dengan surat itu yang
berisikan utang piutang ayah pada rentenir untuk memenui kebutuhan kami. Kini
aku paham mengapa orang-orang itu membawa barang-barang dirumah kami dan
mengapa ayah membawaku untuk tidur dibawah jembatan. Seketika aku meneteskan
air mata , “tuhan, apakah ini keadilan yang engkau berikan pada kami? Kasihan
ayah tuhan.... berikanlah jalan keluar pada kami, apakah aku akan selalu
dihina? Apakah akan selalu menjadi khayalan untuk tidur di rumah mewah seperti
mereka? Apakah hanya akan selalu menjadi khayalan untuk diantar menggunakan
kendaraan mewah seperti mereka tuhan? Apakah kami tidak bisa makan enak tuhan?
Apakah kami tidak bisa mempunyai baju yang layak tuhan? Tidak! Tidak, tuhan aku
tidak mau seperti itu tuhan, dimana tuhan? Dimana keadilan yang engkau janjikan
pada kami!” Tanyaku pada tuhan di
kegelapan malam.
Sinar matahari menggodaku untuk
terbangun dari tidurku, aku melihat sudah tidak ada ayah disampingku. “mungkin ayah lagi olahraga”,
pikirku. Aku bergegas berangkat mandi di toilet umum di sebelah jembatan. Usai
mandi, aku kembali turun ke tempatku tidur, disana sudah ada ayah, dengan
memegang satu bungkus makanan dan air mineral. “Ayo sinih nak! Ayah sudah bawa
sarapan spesial nih, ada yam dan telurnya loh!”, ucap ayah seraya membuka
bungkus nasi itu. Aku heran dengan isi bungkus makanan itu, ayamnya sudah tidak
utuh dan telurnya juga tinggal separuh. “Yah, ini makanan sisa?” tanyaku pada
ayah. Ayah menatapku dengan pandangannya yang penuh makna, “iya nak, maaf cuma
ini yang bisa ayah kasih ke kamu nak, ayah sekarang udah engga punya uang lagi,
harta ayah udah habis diambil rentenir nak, sekarang satu-satunya harta yang
ayah punya cuma kamu nak, sekali lagi maafin ayah ya nak, ayah pasti akan
melakukan yang terbaik buat kamu nak”, jawab ayah dengan matanya yang
berlinangkan air mata. Akupun tak tega melihatnya seperti itu, “iya yah, gapapa
yah, Dodit ngerti kok”, jawabku disertai senyum kecilku. Ayah menatapku dengan
tatapan harunya yang kemudia memelukku dengan pelukan hangatnya.
Setelah
sarapan, ayah kembali mengantarku ke sekolah seperti biasa, kini ayah mengantarku
sampai depan kelas agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan kembali,
setelah kami melakukan salaman khas kami, aku berjalan menuju kelas. “Pak
Tampan!”, terdengar olehku suara lembut Bu Halimah memanggil nama ayahku,
kemudian aku mengintipnya dari jendela kelas. Bu Halimah memberi amplop pada
ayahku, namun ayah nampak sangat bingung dan gelisah. Ayah memalingkan
pandangannya ke kelasku, akupun langsung membalikan badanku dan terus terpikir
apakah yang diberi Bu Halimah pada ayah.
Jam
sekolah usai, ayah terlihat menungguku di seberang jalan. “Kita makan di rumah
makan yuk!”, ajak ayah. “Loh, kata ayahkan...”, belum usai aku mengatakannya,
ayah menyahut “udah kamu tenang aja, yang penting kita makan enak nanti”. Aku
hanya menganggutkan kepala terheran. Tibalah kami di rumah makan itu, setelah
kami mengambil makanan, kamipun mulai menyantap makanan kami. Namun aku masih
mekirkan bagaimana cara ayah membayar makanan ini. Setelah kami usai makan,
ayah mengatakan akan kebelakang sebentar, namun di tempat duduknya ada amplop
seperti yang diberikan Bu Halimah tadi. Tanpa pikir panjang, aku membuka
amplop itu. Amplop itu ternyata berisi surat peringatan untuk membayar biaya
sekolah agar aku tak dikeluarkan dari sekolah. Sontak aku langsung termenung
memikirkan tentang ayah. Setelah menunggu sekitar 1 jam, ayahpun kembali, “ayah
kok lama banget si? Ngapain aja?”, tanyaku. “ayah baru nyuci piring dit”, jawab
ayah. “loh kok nyuci piring yah? Bukannya udah ada pegawainya?” tanyaku
kembali. Lagi-lagi ayah hanya tersenyum padaku.
Malam
mulai datang, ayah mengajakku untuk menginap di tempat yang katanya jauh lebih
mewah dari kemarin, akupun makin antusias untuk itu. Tanpa terduga ayah masuk
ke dalam stasiun melewati jalur rel kereta, “Dit, malam ini kita tidur di dalam
gerbong kereta ya, ayah cari pintu gerbong yang gak kekunci”, ucap ayah
berbisik seraya mendorong satu persatu pintu gerbong dan akhirnya ada satu
gerbong yang tak terkunci, ayah menggendongku naik ke dalam gerbong. Setelah
kami akan berangkat tidur, badan ayah terasa sangat panas dan batuk-batuk, ayah
menggigil seperti kedinginan. Aku sangat bingung dengan apa yang harus ku
lakukan, “ayah kenapa? Ayah sakit? Dodit bawa ke puskesmas ya?” tanyaku dengan
sangat panik. “engga usah Dit, ayah cuma kedinginan aja, mungkin kebanyakan
kena angin” jawabnya rintih. Lalu ku selimutkan jaketku pada tubuhnya. Aku
sangat iba melihat ayah yang harus berjuang demiku. Aku hanya bisa menangis dengan ini semua.
“Dodit, kamu jangan nangis, hidup itu ujian, kadang kita dibawah, kadang
diatas, kalau kita ikhlas, tuhan pasti akan memberi imbalannya pada kita” ucap
ayah. “tapi yah, Dodit kasian sama ayah, Dodit capek sama semua ini, Dodit
capek ada di bawah terus, Dodit malu yah!”, balasku dengan meneteskan air mata.
“Gausah dipikirkan Dit, ini pasti rencana tuhan. Udah ah, tidur aja, besok
sekolah Dit” sahut ayah kembali.
Saat hari masih sangat pagi, ayah
membangunkanku untuk segera pergi agar kami tidak diusir oleh petugas stasiun.
Setelah rutinitas pagi yang biasa aku lakukan, ayah mengantarku berangkat ke
sekolah dengan wajah yang masih pucat. Di kelas aku terus memikirkan tentang
ayah. Saat pulang sekolah, ayah tidak terlihat menungguku, mungkin ayah masih
sakit, ujarku. Aku pulang jalan kaki menuju tempat ayah biasa nongkrong bersama
teman-temannya. Dijalan tanpa sengaja aku menendang batu yang dibaliknya
terlihat seongok kertas setelah kubuka, ternyata itu adalah lowongan pekerjaan
untuk menjadi mandor yang ayah bisa lakukan. Aku tak sabar ingin memberitahukan
ini pada ayah, ayah sangat snang dengan apa yang aku berikan itu. Ayah langsung
mengganti pakaiannya dan mengoleskan minyak goreng pada rambutnya yang sangat
berantakan, ayah langsung berangkat dengan membawa ijazahnya yang hanya sampai
SMP.
Aku menunggu ayah dengan sangat
cemas, ayah terlihat dari kejauhan sambil bersepeda dan mengatakan pada
orang-orang bahwa ayah mendapat pekerjaan. Ayah turun dari sepedanya dan
mengangkatku kemudian memeluku seraya mengucap terimakasih padaku. “Gak usah
terimakasih sama aku yah, teimakasih aja sama tuhan, karena tuhan yang punya
rencana”, ucapku pada ayah yang terlihat sangat gembira dan tak bisa
berkata-kata.
Hari demi hari berlalu, keuangan
ayah kini mulai membaik. Buktinya aku sudah bisa membeli baju baru, sepatu baru,
buku baru, dan tas baru. Kali ini ayah mengantarku dengan sepeda motor second yang baru dibeli ayah, meskipun
bukan motor baru, namun aku sangat senang dengan motor itu, ayah sudah tidak
perlu capek-capek mangayuh sepeda ontel tuanya itu. Diatas motor aku bertanya
pada ayah “yah, Dodit bisa punya ibu lagi gak yah? Dodit pengen punya ibu yah”
ucapku. Namun ayah hanya terdiam dan hanya fokus mengendarai.
Sesampainya di sekolah entah mengapa
4 sekawan jahil itu meminta maaf padaku dan
mereka ingin menjadi sahabatku. Aku menjawab permintaan mereka dengan
mantap “iya tentu!” aku sangat senang dengan itu, belum usai gembiraku, aku
melihat ayah sedang berbincang dengan Bu Halimah, mereka terlihat sangat akrab
dan terlihat senyum-senyum malu diantara mereka. Ayah melihat ke arahku dengan
wajah gembira dan senyumnya seraya mengedipkan matanya yang terlihat seperti
menjawab pertanyaanku padanya.
Wahh nampaknya aku akan punya ibu
baru nih! Ujarku dalam hati dengan sangat gembira. Kemudian aku menatap ke arah
langit seraya mengucapkan “terimakasih tuhan, rencanamu luar biasa. Maaf tuhan
aku telah meragukanmu, kini aku takkan meragukanmu lagi, karena dibalik
kegelapan pasti ada secercah cahaya disana”.
Genmass Gagas Alfakhri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar